Perkembangan
Linguistik di Indonesia Hingga Akhir 90-an
Paradigma, Tendensi, Aliran, dan Gerakan
Linguistik dewasa ini berkembang dengan pesat. Perkembangan
tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah
dihasilkan serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan
teori-teori tersebut merata pada pelbagai cabang-cabang linguistik, seperti
pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan
itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori
tersebut pula semarak dan tumbuh bak jamur di musim hujan. Perkembangan teori
dan makin banyaknya penelitian yang dihasilkan itu tidak terlepas dari gerakan
dan aliran yang memayungi dan menyemarakkan dunia linguistik.
Penerbitan dan pengedaran buku-buku serta karya-karya tentang
linguistik juga ikut berperan dalam penyebaran dan pengembangan linguistik.
Karya de Saussure Course in General Linguistics, dapat dikatakan menjadi pemicu
tumbuh dan berkembangnya linguistik.
Praktik-praktik linguistik sampai dengan tahun 60-an dapat ditandai dengan adanya generalisasi induktif dalam penyelidikan ilmiah. Dengan kata lain, data-data kebahasaan diamati lebih dahulu kemudian disusunlah teori berdasarkan organisasi data tersebut. Namun, hal itu tidak selamanya dilakukan. Dalam penyelidikan linguistik kini, pengamatan juga sarat dengan teori, selain deskripsi dan analisis.
Praktik-praktik linguistik sampai dengan tahun 60-an dapat ditandai dengan adanya generalisasi induktif dalam penyelidikan ilmiah. Dengan kata lain, data-data kebahasaan diamati lebih dahulu kemudian disusunlah teori berdasarkan organisasi data tersebut. Namun, hal itu tidak selamanya dilakukan. Dalam penyelidikan linguistik kini, pengamatan juga sarat dengan teori, selain deskripsi dan analisis.
Dalam penelitian ilmiah ada baiknya konsep-konsep yang
melatarbelakangi penelitian linguistik tersebut dibedakan sehingga kita dapat
melihat secara tajam perbedaan-perbedaan konseptual di balik pemakaian istilah
itu. Konsep-konsep tersebut seperti teori, paradigma, tendensi, aliran, dan
gerakan. Hal tersebut dimaksudkan agar peneliti mengetahui posisi dan sikapnya
dalam kegiatan penelitian.
Untuk mendapatkan pengertian dari teori, paradigma, tendensi,
aliran, dan gerakan di atas, berikut ini akan dijelaskan perbedaannya secara
singkat. Teori merupakan sistem yang makin abstrak yang menghasilkan
penjelasan, prediksi, rekonstruksi, interpretasi, evaluasi, dan dapat
merumuskan kaidah atau hukum. Menurut Verhaar (dalam Sutami, 2001) teori dapat
dibagi menjadi dua, yaitu teori yang kurang abstrak dan teori yang abstrak.
Teori yang kurang abstrak merupakan ringkasan data dan uraian prosedur
penemuan. Teori yang abstrak tidak diperoleh dari data saja, tetapi juga dari
penalaran logis, matematis, bahkan juga dapat berdasarkan intuisi peneliti dengan
kerangka rujukan tertentu.
Paradigma ialah prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa
sebagai model untuk memecahkan maslaah ilmiah. Paradigma bisa disebut sebagai
norma ilmiah. Suatu penelitian yang tidak menggunakan paradigma yang berlaku
pada masa tertentu, maka penelitian itu dikatakan tidak ilmiah. Pada tahun
60-an misalnya, paradigma yang menonjol adalah positivisme (objek penelitian
terlepas dari subjek). Contoh lain adalah paradigma Plato (bahasa adalah fisei)
dan Aristoteles (bahasa adalah tisei).
Tendensi ialah nuansa berpikir yang nampak pada karya-karya
ilmiah tertentu yang berasal dari ilmu atau pandangan di luar linguistik.
Tendensi itu berupa pengaruh lain di dalam linguistik dan mewarnai cara
berpikir sarjana tersebut. Misalnya, karya-karya Chomsky yang bertendensi
psikologisme, atau Pike yang bertendensi antropologisme.
Aliran adalah kumpulan sarjana yang berpengaruh pada ajaran atau
guru yang sama. Ajaran itu dikembangkan oleh seseorang atas dasar falsafah
teori yang dianutnya. Ajaran itu kemudian dikembangkan dan diikuti orang lain
sehingga menjadi aliran. Contoh: aliran Transformasi Generatif merupakan
kumpulan sarjana yang berpegang pada ajaran dari Chomsky. Aliran Praha (Trubetzkoy),
aliran Tegmemik (Pike).
Gerakan adalah cara berpikir yang tidak diarahkan oleh tokoh
atau kelompok tertentu yang menajdi dasar menyeluruh kegiatan ilmiah tertentu
bagi aliran atau tokoh yang berlainan. Gerakan bisa berupa teori, falsafah,
atau pandangan umum yang memayungi aliran tertentu. Mislanya, gerakan
Generativisme memayungi aliran Transformasi Generatif.
Linguistik Indonesia
Istilah linguistik dapat dipahami secara luas dan sempit. Dalam
pengertian luas, konsep ini menjangkau segala sesuatu yang membicarakan bahasa,
apapun pendekatan dan tujuannya. Dalam pengertian sempit, linguistik hanya
mencakup karya penelitian dan teoretis saja. Penggunaan pengertian luas dan
sempit itu untuk memudahkan wacana ilmiah karena yang namanya keilmiahan itu
adalah konsep berjenjang. Karya Raja Ali Haji (1856) bisa digolongkan sebagai
karya linguistik ilmiah karena merupakan prestasi kebahasaan pada zamannya
meskipun karya pedagogis. Justru kita akan membuat kesalahan sangat fatal jika
meremehkan dan mengatakan karya itu sebagai karya tidak ilmiah.
Dalam perkembangan teori linguistik di Indonesia bidang yang
paling banyak diminati adalah gramatik, khususnya sintaksis. Hal itu disebabkan
karena kajian linguistik Indonesia tumbuh dari perhatian pada pemakaian bahasa
khususnya tata bahasa (gramatika pedagogis). Kalau linguistik Eropa lahir dari
filsafat, linguistik India dan Arab lahir dari Agama, maka linguistik Indonesia
lahir dari pengajaran bahasa (lihat Kridalaksana, 1995).
Teori Linguistik di Indonesia
Teori linguistik di Indonesia banyak dipengaruhi oleh linguistik
Barat (Eropa-Amerika) karena dari sanalah para linguis banyak belajar tentang
linguistik. Secara umum, perkembangan linguistik di Indonesia dapat dibagi ke
dalam bebera periode berikut ini.
Sampai Tahun 1940
Sampai akhir abad 19 yang
disebut tata bahasa adalah kelas kata sehingga buku-buku tata bahasa banyak
mengulas tentang hal tersebut. Hal itu karena banyak mendapat pengaruh tata
bahasa tradisional model Yunani dan Latin. Beberapa buku tata bahasa tertua tentang
bahasa melayu antara lain:
a.
Grondt of te Kort Bericht
van de Maleysche Tale, Vervat in Twee Deelen: Her Eerste handelende van de
Letters ende haren aenhanh. Het andere van de deelen eener Redene (1653) karya
Joannes Roman. Buku ini digunakan sebagai sarana misionaris Kristen melalui
penerjemahan Injil.
b.
Bustanulkatibin (1850) dan
Kitab Pengetahuan Bahasa (1858/1929) karangan Raja Ali Haji, seorang sastrawan
dan linguis asal Riau.
c.
Kitab jang Menyatakan
Djalan Bahasa Melajoe (1910) karya Koewatin Sasrasoeganda.
d.
Maleische Spraakkunst
(1915) karya Ch. A van Ophuysen. Buku ini mulai menggunakan pendekatan
filologi.
e.
Kitab ABC karangan Lim Kim
Hok. Buku ini berisi tata bahasa Melayu Rendah yang pada saat itu merupakan
lingua franca
Tahun 40-an sampai 60-an
Pada periode ini
karya-karya kebahasaan dapat dibagi atas tata bahasa pedagogis (digunakan untuk
pengajaran bahasa Indonesia di sekolah) dan tata bahasa teoretis. Contoh
karya-karya pedagogis adalah:
a.
Tatabahasa Baru Bahasa
Indonesia (1949-1950) karya STA yang banyak berpengaruh pada pengajaran bahasa
Indonesia.
b.
Tata Bahasa Indonesia
(1951) karya C.A. Mees.
c.
Djalan bahasa Indonesia
(1942) karya Sutan M. Zain.
Penelitian yang bersifat
ilmiah dan teoretis belum berkembang pesat pada periode ini namun beberapa buku
berusaha mengungkap sisi lain bahasa Indonesia secara ilmiah, misalnya:
a.
Mencari Sendi Baru Tata
Bahasa Indonesia (1950) karya Armin Pane. Karya ini menekankan aspek bunyi.
b.
Inleiding tot de Studie
van de Indonesische Syntaxis (1951) yang diterjemahkan menjadi Pengantar
Sintaksis Bahasa Indonesia. Buku karya Fokker ini mendapat pengaruh aliran
Praha.
c.
Kaidah Bahasa Indonesia
(1956-1957) karya Slametmuljana ini bersifat generative
Tahun
60-an sampai 70-an
Periode
ini menandai dimulainya kajian-kajian empiris tentang bahasa Indonesia maupun
bahasa-bahasa lain. Contoh karya-karya yang muncul antara lain:
a. artikel tentang fonologi bahasa Jawa dan sistem fonem dan ejaan (1960) oleh Samsuri.
b. Artikel tentang morfem-morfem produktif (1960) oleh TW. Kamil dan Sugeng Sikarso.
c. Artikel tentang IC Analysis (1964) dan kata majemuk (1965) dengan menggunakan model IA oleh Ramlan.
a. artikel tentang fonologi bahasa Jawa dan sistem fonem dan ejaan (1960) oleh Samsuri.
b. Artikel tentang morfem-morfem produktif (1960) oleh TW. Kamil dan Sugeng Sikarso.
c. Artikel tentang IC Analysis (1964) dan kata majemuk (1965) dengan menggunakan model IA oleh Ramlan.
Ciri-ciri penelitian pada saat itu adalah:
a.
dipengaruhi gerakan
deskriptivisme
b.
menganut aliran Neo-Bloomfieldian
dan bersifat behavioristik
c.
ketat dalam metodologi
d.
bahasa lisan menjadi objek
utama.
Tahun 70-an sampai 80-an
Antara tahun tersebut teori linguistik Indonesia ditandai
penerapan teori aliran Leiden, dan teori TG. Penelitian linguistik mulai
berkembang dan banyak mendapat pengaruh dari aliran-aliran tersebut. Para
sarjana yang mencoba menerapkan teori deskriptif Leiden antara lain Muhajir, Badudu,
Ayatrohaedi, dan Tarigan. Para sarjana yang mendapat beasiswa Ford Foundation
juga mulai menerapkan teori TG, mislanya Samsuri (yang sebelumnya beraliran
Neo-Bloomfieldian) beralih ke TG. Salah satu karyanya Tata Kalimat Bahasa
Indonesia (1985). Ada juga sarjana yang melakukan penelitian bersifat
fungsionalistis, misalnya Sudaryanto, dalam karyanya Predikat-Obyek dalam
Bahasa Indonesia (1979).
Hal baru yang diperkenalkan dalam sistem bahasa Indonesia adalah
mengenai wacana sebagai satuan terbesar dalam hierarki gramatikal. Konsep ini
diperkenalkan Kridalaksana (1970 dan 1978).
Tahun 80-an sampai 90-an
Pada periode ini perkembangan teori linguistik merupakan
sintesis atas teori-teori yang ada. Penelitian dalam bidang pragmatik mulai
mendapat tempat cukup penting dalam penelitian linguistik Indonesia. Selain
itu, Kridalaksana mengupayakan dibangunnya sebuah teori sintaksis yang
merupakan sebuah sintesis dengan dipengaruhi oleh gerakan fungsionalisme.
Selain hal itu, beberapa kegiatan ilmiah, seminar, lokakarya, dan semacamnya
diselenggarakan guna mendorong perkembangan linguistik di Indonesia.
Kemajuan yang dicapai sepanjang sejarah linguistik Indonesia
dalam beberapa bidang kajiannya antara lain:
1. Bidang fonologi
a.
masuknya konsep fonem
(tahun 70-an)
b.
masuknya wawasan tentang
unsur suprasegmental oleh Amran Halim, Intonasi (1969), dan Hans Lapoliwa (1981)
dengan fonologi generatifnya.
c.
Usaha memahami lafal
bahasa Indonesia oleh Joko Kencono (1983)
2. Bidang morfologi
a.
masuknya konsep morfem
(tahun 60-an)
b.
pemakaian Model IA
c.
penggunaan Model IP
3. Bidang Sintaksis
a.
pengenalan konsep hierarki
gramatikal dalam linguistik Indonesia.
b.
Pengenalan konsep frasa
menggunakan teori Hockett (aliran Neo-Bloomfieldian) oleh Ramlan (1964)
c.
Pengenalan teori tagmemik
oleh Kridalaksana (70-an)
d.
Sudaryanto (1979)
mempertajam konsep klausa.
4. Bidang leksikografi
Muncul seorang pelopor leksikografi modern Indonesia, yaitu
W.J.S. Poerwadarminta. Kamusnya yang terkenal adalah Kamus Umum Bahasa
Indonesia (1952). Selain itu ia juga menaruh perhatian pada bahasa Jawa dan
Jawa Kuno. Perkembangan linguistik malahan semakin meriah pada tahun 2000
hingga sekarang ini dengan munculnya beragam bidang dan pendekatan kajian
linguistik yang dilakukan di pelbagai universitas di Indonesia. Ada juga
kecendrungan beberapa tahun terakhir penelitian linguistik berorientasi pada
eksplorasi bidang pragmatik bahasa Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari
seringnya muncul tulisan-tulisan (jurnal, makalah, artikel, tesis, atau
disertasi) yang menggali secara khusus pragmatik bahasa Indonesia. Saya
menduga-duga barangkali ini karena dipicu oleh kolom bahasa Indonesia di harian
Media Indonesia yang diasuh oleh Rahardi yang banyak menjawab permasalahan
pragmatik. Namun, untuk mengetahui perkembangan mutakhir linguistik Indonesia
saat ini diperlukan survei lagi yang lebih mendalam.
Daftar Bacaan
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, Harimurti. 1991. “Perkembangan Linguistik Dewasa
Ini.” Atma nan Jaya, Tahun IV No. 2, Agustus.
Kridalaksana, Harimurti. 1995. “Teori Linguistik di Indonesia
dalam Beberapa Dasawarsa Terakhir ini.” Atma nan Jaya, Tahun III. No. 1, April.
Suhardi, Basuki. 2005. “Tokoh-tokoh Linguistik Abad ke-20.”
Dalam Pesona Bahasa Langkah Awal memahami Linguistik. (ed) Multamia Luder. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Sutami, Hermina. 2001. Sintaksis Lanjutan. Diktat Mata Kuliah
Sintaksis Program Magister Linguistik Pascasarjana Universitas Indonesia Depok.
0 komentar:
Posting Komentar